FAJAR.CO.ID, SAMARINDA – Modus distribusi narkoba cukup beragam. Jika sebelumnya di Kutai Kartanegara (Kukar) modus peredaran sabu-sabu melalui buah durian, kemarin (17/4), jajaran Badan Narkotika Nasional (BNN) Samarinda membekuk lima pengedar sekaligus dalam hitungan jam. Mereka mengelabui petugas menggunakan kotak bungkusan susu. Transaksinya mereka menggunakan “sistem jejak” alias tanpa bertemu.

Di kawasan Kelurahan Temindung Permai, Kecamatan Sungai Pinang, Rudi Usman (37) dibuat tak berkutik. Segala penjuru arah tim khusus BNN Samarinda meringkus bandar narkoba yang berdomisili di Samarinda Seberang itu. “Saya beli susu, Pak. Ada apa ini?” ucapnya. “Diam! Diam!” perintah petugas sembari berusaha menidurkan Rudi di tepi jalan. Penangkapan lepas tengah malam kemarin itu membuat beberapa pengendara yang melintas pun sempat bertanya-tanya.

Berkat kejelian petugas, kotak susu bubuk itu dibuka. Serbuk putih berharga jutaan rupiah itu didapati petugas. Paket kristal mematikan 30 gram itu jadi barang bukti. Di hadapan petugas, Rudi mengaku dihubungi seseorang untuk mengambil paket narkoba tersebut.

“Modus sindikat semakin kreatif untuk mengelabui petugas. Metode pengirimannya sistem jejak,” ujar Kepala BNN Samarinda AKBP Siti Zaekhomsyah saat dikonfirmasi Kaltim Post. Polwan senior berpangkat melati dua itu membeberkan, sistem jejak adalah menjalin komunikasi antara penyedia barang haram dengan pembeli hanya lewat telepon. Artinya, keduanya menggunakan sistem kepercayaan tanpa saling mengenali. “Jadi, paket ditaruh di suatu tempat, kemudian ada yang mengambil. Begitulah modusnya,” lanjut Siti. Dikatakan Siti, jajarannya masih menginterogasi Rudi untuk bisa “bernyanyi” dan menyeret “orang besar” di belakangnya. “Siapa orangnya sudah kami kantongi identitasnya,” ujarnya.

Berselang beberapa jam, tujuh pemuda berada di salah satu rumah Jalan AM Sangaji, Kelurahan Bandara Sungai Pinang tengah asik berkumpul untuk pesta narkoba kaget bukan kepalang. Mereka digerebek dan hasilnya, lima orang di antaranya dinyatakan positif narkoba. Sedangkan dua lainnya masih proses pemeriksaan. Namun, diduga kuat, mereka masuk dalam jaringan khusus peredaran kristal mematikan tersebut. Mereka adalah Irwanda (21), Aris (35), Faturahman (36), FT (16), dan Andika (34). “Memang kami hanya mendapati sisa barang saja karena agak terlambat sedikit,” tegas Siti.

Empat pengedar lain yang juga dibekuk selain Rudi adalah SI (35), AF (32), HE (31), dan DD (23). Rumah sewa di Jalan Gerilya, Kelurahan Sungai Pinang Dalam itu menjadi markas transaksi paket hemat. Rata-rata yang dijual paket Rp 100–300 ribu. Dari penuturan Rudi dan SI, keduanya tak saling kenal. Namun, orang dengan ciri-ciri yang sama disebutkan keduanya ke petugas. “Saya dititipi, selebihnya tidak kenal,” ujar Rudi.

Khusus pengedar SI, BNN rupanya tak bisa menganggap remeh. “Hampir 30 orang beli sama dia (SI),” beber Siti. Selanjutnya, tim BNN bakal berkoordinasi dengan beberapa satuan kerja di kepolisian untuk bisa sama-sama memberantas narkoba di Samarinda. (*/dra/iza/k11)

Selamat datang di Website Resmi Kelurahan Temindung Permai
Pelayanan Kelurahan Temindung Permai melayani warga pada hari kerja Senin-Kamis pukul 07.30 - 16.00 WITA dan Jumat pukul 07.30 - 11.00 WITA
sampaikan keluhan dan saran kalian pada kami melalui Contact Person (0541) 733972
Tertib Administrasi akan membantu Saya..Anda..dan Kita semua menuju SAMARINDA ROAD TO SMART CITY